BLOGGER TEMPLATES AND Friendster Layouts »
Powered By Blogger

Latest Photos

Latest News

Sabtu, 12 Juni 2010

Papan Sponsor Elektronik: Yang Baru di Piala Dunia 2010

Piala Dunia Afrika Selatan memang serba baru. Bukan hanya dari negara penyelenggara saja, Vuvuzela yang selalu menghiasi stadion, Jabulani yang mengundang kritik tetapi juga adanya papan sponsor elektronic alias electronic billboard. Bila Anda menyaksikan salah satu pertandingan di Piala Dunia coba saksikan di pinggir lapangan papan-papan iklan yang ada di sana. Terlihat berbeda bukan? Kalau biasanya kita sering melihat tampilan papan-papan iklan yang itu-itu saja dan terkesan biasa maka di situlah kita melihat papan iklan yang bisa bergerak tampilannya dan berganti otomatis.

Tentulah untuk ajang sebesar Piala Dunia hal tersebut begitu baru apalagi ini adalah Piala Dunia yang pertama kali memakai sistem tersebut. Di beberapa kompetisi sepakbola di Eropa penerapan ini sudah ada sejak 2006-2007 yang dimulai di EPL kemudian ke La Liga dan terakhir Serie A. FIFA sendiri sebenarnya sudah menerapkannya pada Piala Konfederasi 2009 dan terbukti berhasil. Dengan papan tersebut terlihat lebih praktis dan futuristik dalam memasarkan iklan tanpa harus terkendala cuaca. Sebab zaman selalu dinamis maka apa yang didalamnya termasuk penerapan papan sponsor elektronik itu adalah pengejawantahannya.

Sayangnya, Afrika Selatan.....

Yap! Piala Dunia dibuka juga pada hari ini dengan berbagai macam atraksi khas Afrika Selatan dan juga bintang-bintang musik terkenal seperti Shakira walau tanpa kehadiran langsung Nelson Mandela. Tentunya pembukaan itu juga merambat ke pertandingan pembuka antara tuan rumah Afrika Selatan dengan Meksiko. Afrika Selatan yang didukung seluruh publiknya di Johannesburg berharap bisa menang dalam pertandingan pertama ini sekaligus membuka asa ke babak berikut. Sayang, apa yang diharapkan tidak demikian. Di awal babak Meksiko yang memang lebih berpengalaman dan berkualitas lebih mendominasi daripada Afrika Selatan yang masih kebingungan untuk mendobrak pertahanan Meksiko. Bahkan kalau saja gol Carlos Vela tidak dianulir wasit Ravshan Irmatov semakin sahihlah dominasi trim berjuluk el-tri. Afsel bukannya tidak bisa. Mereka juga dapat peluang terutama dari tendangan bebas sang pengatur serangan, Stephen Pienaar. Sayang, tendangan pemain Everton itu melesat jauh.

Di babak kedua Afsel mengubah permainan. Hasilnya serangan balik berhasil dimanfaatkan oleh Siphiwe Tshabalala untuk menjebol gawang Meksiko yang dijaga oleh Oscar Perez pada menit 55. Gol tersebut memang membuat semangat para pemain bafana-bafana meningkat apalagi dengan vuvuzela dari penonton. Bahkan setelah Afsel sebenarnya bisa saja membuat gol kedua andai saja sepakan Kagisho Dikgachoi tidak ditepis oleh Perez. Pada menit 79 gawang tuan rumah kebobolan juga oleh Rafael Marquez yang tampak tidak terjaga ketat setelah menerima umpan dari Andres Guardado dari luar kotak penalti. Skor menjadi sama 1-1. Afsel pun tentu tak ingin seri. Berbagai upaya mereka lakukan termasuk tendangan Katlego Mphela yang membentur tiang gawang. Apa daya skor tetap 1-1 begitu peluit dari wasit ditiup. Sungguh sayang, Afrika Selatan.

Kamis, 10 Juni 2010

Enam Debutan Sensasional di Piala Dunia

Dalam setiap Piala Dunia memang selalu ada tim-tim debutan. Tim-tim debutan yang ada bisa menjadi debutan yang terbaik dengan penampilan mengejutkan atau sebaliknya. Nah, dalam postingan ini saya ingin menampilkan  6 tim debutan yang menurut saya sensasional dalam setiap Piala Dunia. Mereka adalah:
  1. Korea Utara 1966: Pada Piala Dunia yang digelar di Inggris dunia sama sekali tak begitu mengenal mengenai Korea Utara karena isolasi yang dilakukan oleh pemimpin negara terhadap rakyatnya kecuali memori Perang Korea yang berlangsung 12 tahun sebelumnya. Keberadaan Korea Utara bahkan tak dianggap alias diremehkan. Namun hal itulah yang membuat semangat tim berjuluk choilimma tersebut. Terbukti mereka berhasil melaju ke perempatfinal setelah mengalahkan tim kuat Italia dan bahkan di perempatfinal mereka sempat mengejutkan lawannya, Portugal dengan memasukkan 3 gol lebih dulu sebelum dibalas 5-3 oleh lawannya tersebut.
  2. Senegal 2002: Sebagai sebuah tim debutan dari benua hitam keberadaan Senegal sekali lagi tidak diperhitungkan apalagi ketika akan berhadapan dengan juara bertahan Perancis. Namun, di lapangan berkata yang sebaliknya. Tim ini malah bisa menjungkalkan juara bertahan dan menyebabkan juara bertahan pada pertandingan-pertandinga berikutnya seri dan kalah hingga akhirnya tersingkir. Senegal yang sensasional itu pun bisa melaju sampai perempatfinal sebelum dihentikan Turki.
  3. Kroasia 1998: Lahir sebagai sebuah tim pecahan Yugoslavia yang bisa menghirup Piala Dunia untuk pertama kali banyak yang meramalkan Kroasia hanya sampai babak kedua saja. Namun, kenyataan berbicara lain. Semifinal juga dirambah sebelum tim corak catur ini dihentikan tuan rumah Perancis meski begitu di perebutan tempat ke-3 mereka berhasil meraihnya dengan mengalahkan Belanda.
  4. Ukraina 2006: Sama seperti Kroasia, Ukraina adalah pecahan dari Uni Soviet. Banyak juga yang meramalkan Ukraina cukup sampai babak ke-2. Namun rupanya tim ini berhasil mencapai perempatfinal walaupun di awal babak penyisihan malah kalah telak 4-0 dari Spanyol.
  5. Arab Saudi 1994: Datang dengan status tim baru dari Asia banyak pengamat meramalkan hal yang sama bila melihat track-record tim-tim Asia sebelumnya. Namun semua itu berhasil diputarbalikkan oleh tim berjuluk petrodollar tersebut dengan memberikan kejutan di USA'94 yaitu dengan lolos hingga perdelapan final.
  6. Nigeria 1994: Berstatus sebagai tim Afrika mendampingi Kamerun dan Maroko, Nigeria juga dipandang sebelah mata walaupun 4 tahun sebelumnya Kamerun bisa mengejutkan dunia. Namun, di lapangan seperti biasa semua bisa terbalik. Nigeria pun melanjutkan kedigdayaan Kamerun walaupun hanya sampai babak 16 besar.

Über Alles Yang Tinggal Über Alles

Über alles adalah kata yang selalu melekat pada tubuh timnas Jerman. Secara harafiah,über alles  berarti di atas segala-galanya. Kata-kata ini diambil dari potongan lagu kebangsaan Jerman, Das Lied der Deutschen (harafiah: Lagu kebangsaan Jerman) yaitu pada bait pertama: Deutschland, Deutschland über alles, Über alles in der Welt yang berarti Jerman, Jerman di atas segala-segalanya, segala yang ada di dunia. Kata-kata tersebut kemudian dipolitisasi oleh pemimpin Jerman pada Perang Dunia ke-2, Adolf Hitler yang juga terpengaruh dengan istilah  übermensch-nya Friederich Nietsche. Politisasi tersebut kemudian merebak ke seluruh bidang termasuk sepakbola yang lebih mengutamakan pemain-pemain asli Jerman yang tunduk kepada Hitler melalui salam Nazi. Hal tersebut dipertunjukkan Jerman ketika melakoni persahabatan dengan Inggris di era 30-an. 

Pasca Perang Dunia über alles masih menjadi hal yang dominan terutama dalam memilih pemain yang harus asli Jerman walaupun rezim Nazi telah ditundukkan. Jadi, über alles sejatinya adalah semangat khas Jerman yang harus dipadukan dengan pemain-pemain asli Jerman. Namun, menjelang pertengahan 90-an paradigma itu perlahan-perlahan berubah seiring dengan masuknya beberapa pemain keturunan alias imigran seperti Mehmet Scholl, Maurizio Gaudino, dan Fredi Bobic. Di era 2000-an beberapa nama yang bukan asli Jerman muncul dan semakin merebak. Dimulai dari Paulo Rink, Gerald Asamoah, Miroslav Klose, Patrick Owomoyela, Lukas Podolski, David Odonkor, Kevin Kuranyi, dan Mario Gomez. Bahkan pada Piala Dunia 2010 ini skuad Jerman malah diisi banyak pemain-pemain keturunan termasuk beberapa nama baru seperti Dennis Aogo, Serdar Tasci, Jérôme Boateng, Sami Khedira, Mesut Özil, dan Cacau. Terlihat semakin berwarnalah skuad Jerman kali ini lebih daripada skuad pada 2006.

Berwarnanya skuad Jerman pada era-era tersebut disebabkan berubahnya pandangan masyarakat Jerman dalam menghadapi situasi sosial yaitu dengan banyaknya imigran-imigran dan kawin campur yang mulai merebak di Jerman. Tentu saja DFB-federasi sepakbola Jerman-tak menutup mata atas kemungkinan itu apalagi dengan bercermin pada banyak negara tetangga seperti Perancis dan Belanda yang sukses dengan pemain-pemain imigran yang berada di tubuh timnasnya (walaupun hingga detik ini prestasi yang didapat dengan adanya pemain-pemain imigran di tubuh timnas Jerman hanya sebatas pada runner-up Piala Dunia 2002, peringkat 3 Piala Dunia 2006, dan runner-up Piala Eropa 2008). Jadi, pada masa kini über alles hanya diartikan sebagai sebuah semangat yang melatari permainan timnas Jerman.


Selasa, 08 Juni 2010

Ironisnya sepakbola ASEAN

Berbicara mengenai sepakbola di kawasan Asia Tenggara atau ASEAN seperti membicarakan sepakbola yang terlihat mengecewakan. Maaf, ini bukannya maksud untuk meremehkan hanya saja jika melihat penampilan tim-tim ASEAN di ajang internasional sekarang ini seperti membuktikan hal tersebut. Pada Piala Asia 2011 nanti hampir dipastikan tak ada sama sekali wakil dari ASEAN baik itu dari Thailand, Indonesia, Malaysia, Vietnam, dan Singapura. Tentunya hal seperti itu seperti menjatuhkan sepakbola ASEAN yang tengah dibangun dan berkembang untuk menuju sepakbola profesional seperti sepakbola-sepakbola di kawasan Asia lainnya yaitu di Asia Timur dan Timur Tengah sehingga nanti bisa bersaing (hal tersebut sebenarnya tidak menjatuhkan seperti halnya kasus sepakbola gajah di Piala Tiger 1998 namun dalam konteks persaingan seperti menjatuhkan).

Ranah sepakbola ASEAN yang dimulai dari semenanjung Vietnam dan berakhir di Papua sejujurnya boleh dikatakan amat potensial untuk menjaring dan memasarkan bisnis sepakbola terutama salah satu negara yang berada di dalamnya, Indonesia malah dikatakan tepat untuk mendukung hal tersebut. Namun memang hal tersebut pada kenyataannya tidak didukung dengan pengelolaan manajemen yang baik dan infrastruktur yang memadai. Hal ini bisa kita lihat pada Indonesia. Negara kepulauan ini memang menjanjikan dalam meraih massa pendukung sepakbola terbesar bila melihat luas dan geografisnya. Apalagi hampir 50 persen orang Indonesia fanatik sepakbola. Sayang hal tersebut tidak begitu baik dimanfaatkan oleh para pengurus PSSI yang lebih mementingkan bisnis daripada keselamatan, kenyamanan, dan keamanan. Akibatnya, selalu saja muncul banyak kasus mulai dari kerusuhan, tribun runtuh dan mafia wasit.

Kasus mafia wasit pun juga selalu muncul di Vietnam. Dalam setiap pertandingan sepakbola di sana selalu saja ada permintaan untuk mengatur skor. Hal ini sempat terungkap dan menyebabkan para pelakunya harus menjalani hukuman. Akan tetapi, hal tersebut tetap kembali muncul dalam bentuk yang lain.

Di Thailand yang menjadi permasalahan adalah sedikitnya orang yang menonton sepakbola. Kontras dengan pemandangan di Indonesia. Hal ini yang menyebabkan AFC sempat memasukkan Thailand sebagai liga yang harus direstrukturisasi dalam hal penonton dengan tujuan penonton mau datang ke stadion. Di Singapura dan Malaysia hal serupa juga terjadi. Namun dalam kasus ini Singapura bisa berkelit karena mereka negara kecil dan wajar jika penonton jarang di stadion di Singapura yang kapasitas rata-rata adalah 2000 orang.

Untuk urusan peringkat di AFC Indonesia boleh berbangga karena Liga Super Indonesia berada di peringkat 8 dan menjadi liga ASEAN paling utama. Di peringkat terakhir ASEAN justru Liga Super Malaysia yang menyandangnya.

Namun dalam urusan tim nasional Singapura yang menjadi rajanya. Negara kecil ini adalah raja baru di dunia sepakbola Asia Tenggara. Dengan kekuatan pasukan naturalisasinya negeri Singa tersebut berhasil menjuarai Piala AFF dua kali berturut-turut (2005 dan 2006). Di FIFA pun peringkat Singapura menjadi yang terdepan disusul Thailand, Vietnam, Indonesia, dan Malaysia. Namun dalam rangking FIFA dan AFC terakhir (26 Mei 2010) Thailand kembali ke puncak dan Singapura berada di urutan kedua.

Bagaimana dengan prestasi tiap-tiap tim di ajang-ajang regional? Di AFF Singapura dan Thailand berbagi sama 3 gelar. Di ajang SEA Games Thailand paling banyak dengan 11 kali juara disusul Malaysia dan Indonesia (hanya di era SEAP Games Burma yang menjadi raja).

Prestasi yang sama juga diraih klub-klub Thailand jika berlaga di ajang antar klub Asia. Tercatat Thai Farmers Bank dan Bec Tero Sassana adalah klub-klub Thailand sekaligus Asia Tenggara yang pernah merasakan juara di kejuaraan antarklub Asia. Hal-hal tersebut yang semakin menegaskan bila sepakbola ASEAN akan selalu dikaitkan dengan Thailand. Di masa lalu juga demikian. Thailand selalu menjadi raja disusul Indonesia, Malaysia dan Myanmar. Bahkan Thailand pernah menduduki peringkat ke-3 di Piala Asia 1972.

Namun, sepakbola ASEAN hanya seperti sepakbola saja pada umumnya.  Industri sepakbola belum berjalan sama sekali. Terlihat sekali ada ketimpangan antara satu negara dan negara lainnya dalam pemerataan kualitas dan juga pengelolaan serta pembinaan. Setidaknya hal tersebut masih bisa diperbaiki asalkan kepentingan bisnis tidak harus selalu diutamakan.

Poskolonialisme Dalam Sepakbola (Pos) Modern

Belakangan dalam beberapa dekade kajian tentang suatu ilmu pengetahuan begitu berkembang dan mewarnai setiap kehidupan umat manusia. Ketika orang memasuki zaman setelah modernisme maka muncullah kajian  posmodernisme. Kemudian ketika zaman setelah kolonialisme hilang maka muncullah juga kajian poskolonialisme. Dalam berbagai bidang kajian-kajian tersebut sering dibicarakan terutama poskolonialisme.

Dalam postingan ini saya akan membahas mengenai poskolonialisme dalam sepakbola (pos) modern. Sebelum  membahasnya saya ingin memberikan jabaran apakah itu poskolonialisme. Menurut pengertian sederhana yang saya dapatkan dari wikipedia, poskolonialisme adalah kajian intelektual yang terdiri dari analisis dan reaksinya terhadap suatu kekuasaan budaya kolonialisme. Itu berarti kajian ini mengenai segala sesuatu yang berhubungan dengan kolonialisme di masa lampau yang kemudian dianalisis apakah pengaruhnya masih terasa sampai pada masa poskolonial. Lalu ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa poskolonialisme adalah kajian mengenai relasi antara negara bekas kolonialis dengan negara yang dijajahnya.

Nah, daripada kita berlama-lama dalam teori lebih baik kita langsung melihat pada bentuk nyatanya terutama dalam sepakbola (pos) modern. 

Sebagian besar dari kita terutama para penggila bola tahu mengenai tim nasional Perancis. Pada awalnya mereka seperti halnya saya pasti heran mengapa dalam tubuh timnas itu ada juga atau mungkin lebih pemain kulit hitamnya. Pertanyaan itu muncul karena Perancis adalah negara Eropa dan karena Eropa sudah pasti pemainnya berkulit putih baik itu Perancis atau luar Perancis. Setelah ditelusur baru diketahui bahwa para pemain kulit hitam yang ada dalam tubuh timnas Perancis adalah para imigran dan lebih tepatnya imigran dari negara-negara bekas jajahan Perancis. Di sinilah kita melihat hubungan itu. Hubungan poskolonial.
Hubungan di atas itu seperti semacam hubungan timbal-balik. Di masa lalu Perancis adalah agresor yang menindas dan diskriminatif. Meski begitu hal tersebut malah berdampak positif terhadap orang-orang di bekas negara jajahan Perancis tersebut. Selain karena ingin ke Perancis mencari kehidupan namun juga mereka akan bangga apabila menjagokan bahkan menjadi bagian dari timnas Perancis. Dari sisi Perancis pun negara ini mendapat banyak keuntungan dengan banyaknya pemain imigran. Itu berarti seperti sebuah sumberdaya yang tidak ada henti-hentinya apalagi jika para pemain imigran itu berasal dari Afrika. Hasilnya pun terbukti dengan diraihya Piala Dunia 1998 dan Piala Eropa 2000.

Hal yang lain pun juga berlaku pada bekas negara kolonialis lain seperti Belanda, Portugal, dan Inggris. Di Belanda para petinggi sepakbolanya pun tak menutup mata terhadap para imigran terutama yang berasal dari negara bekas jajahan Belanda seperti Indonesia dan Suriname. Selain itu ada juga pemain imigran dari Afrika seperti Pantai Gading dan Ghana yang di masa lalu adalah bekas tentara bayaran Belanda dan tak ketinggalan yang terbaru imigran-imigran dari Maroko dan Turki yang sebenarnya tak ada keterkaitan dengan Belanda.

Akan halnya Portugal yang juga memanfaatkan imigran asal Angola dan Mozambik sebagai pemainnya dan belakangan juga ada pemain-pemain Brazil dalam tubuh timnas Portugal. Namun untuk pemain Brazil saya cenderung melihatnya bukan sebagai hubungan poskolonial meskipun Brazil adalah juga bekas jajahan Portugal. Saya melihatnya karena keinginan para pemain itu yang sadar jika peluangnya masuk ke timnas Brazil adalah 0 besar. Seperti kita ketahui Brazil memang mempunyai sumber daya yang cukup untuk bisa terus menghasilkan pemain-pemain bagus namun belum tentu semuanya bisa masuk ke dalam timnas Brazil sebab seleksi yang dilakukan begitu ketat.

Di Inggris hubungan itu juga terlihat dengan adanya beberapa pemain hitam dalam tim nasional mereka. Namun, perlu diketahui para pemain hitam ini sudah bukan lagi berstatus sebagai imigran karena nenek moyang mereka telah ada di Inggris berabad-abad sebelumnya bahkan sebelum terjadinya Perang Dunia ke-2. Mereka sudah menjadi warga Inggris dan bertingkah seperti orang-orang Inggris pada umumnya sehingga tidak terlihat corak imigrannya.

Selain itu selain seperti Perancis juga, warga-warga negara bekas jajahan tersebut sudah pasti membela bekas negara yang pernah menjajahnya. Entah itu karena nostalgia atau memang terpesona dengan permainan yang dimiliki negara tersebut. Satu contoh saja adalah di Indonesia. Banyak penggila bola di Indonesia pasti akan membela Belanda walaupun di masa lalu Belanda sering berlaku tidak adil dan diskriminatif. Itu yang terlihat pada final Piala Dunia 1974 dan tentu saja hal tersebut masih berlaku sampai sekarang.

Minggu, 06 Juni 2010

Menanti Kejutan dari 2 Debutan Dengan 2 S (Serbia dan Slovakia) di Piala Dunia 2010

Setiap Piala Dunia akan selalu menjadi munculnya tim-tim debutan. Tim-tim debutan terkadang berpotensi bisa menimbulkan kejutan atau malah hanya sekedar pelengkap. Di Piala Dunia 2010 ini tim-tim debutan itu kebetulan berasal dari Eropa Timur dalam dan mempunyai nama depan S. Serbia dan Slovakia adalah tim-tim debutan tersebut. Sebenarnya kalau mau dibilang debutan dua-duanya tidak benar-benar dibilang debutan. Antara Serbia dan Slovakia menyandang dua nama besar yang juga pernah mentas di Piala Dunia yaitu, Yugoslavia dan Cekoslovakia. Perlu diketahui bahwa Serbia dan Slovakia adalah negara-negara pecahan dari negara-negara tersebut yang runtuh pada dekade 90-an akibat perang dan politik.

Sekarang kita akan melihat Serbia. Banyak orang yang masih mengaitkan negara ini dengan Yugoslavia. Itu dikarenakan Serbia yang beribukota di Beograd adalah pusat dari Yugoslavia dan hampir semua etnis mayoritas di Yugoslavia pada masa dahulu adalah berasal dari Serbia. Hal tersebut yang menjadikan status kelolosan Serbia ke Piala Dunia bukan sebagai tim debutan. Baik FIFA maupun UEFA juga demikian karena menganggap asosiasi sepakbola Serbia sudah menjadi anggota sejak 1921 dan 1954 walaupun dengan nama Yugoslavia. Itu berarti baik FIFA maupun UEFA sepakat bahwa tim yang dahulu bernama Yugoslavia hanya mengganti nama walaupun disertai dengan banyak pemisahan daerah-daerah sekitarnya seperti Slovenia, Kroasia, Bosnia-Herzegovina, Makedonia, Montenegro, dan Kosovo.

Namun lain halnya dengan media yang mengatakan bahwa status Serbia adalah debutan dengan harus melupakan sewaktu Serbia masih berada dalam naungan Yugoslavia atau ketika masih bernama Serbia-Montenegro meskipun  di dalam tim Serbia yang sekarang beberapa di antaranya masih diperkuat nama-nama yang pernah memperkuat Yugoslavia dan Serbia-Montenegro seperti Dejan Stankovic, Branislav Ivanovic, dan Nemanja Vidic. Akan tetapi semua itu harus dipisahkan dan harus melihat bahwa Serbia adalah negara baru dalam sepakbola dan Piala Dunia. Ini dikarenakan apa yang dimulai Serbia dalam bersepakbola adalah tetap sesuatu yang baru dan sama halnya dengan negara-negara di sekitarnya.

Tanpa harus melihat kembali akan kebesaran nama Yugoslavia Serbia dalam Piala Dunia kali ini diprediksi akan menjalaninya dengan gampang-gampang susah mengingat mereka tergabung di grup yang boleh dibilang tidak terbilang ringan namun tetap memunculkan harapan untuk lolos ke babak selanjutnya. Di grup yang mereka tempati ada Jerman, Australia, dan Ghana. Namun, Serbia sepertinya lebih berkonsentrasi pada Jerman yang merupakan unggulan daripada dua kompetitornya.

Sedangkan Slovakia jika hendak dilihat sebagai debutan bisa dibilang murni debutan walaupun orang juga akan terus mengait-ngaitkan dengan Cekoslovakia seperti halnya Republik Ceska ketika melakukan debut Piala Dunianya pada 2006. Bisa dibilang dalam persepakbolaan di bekas pecahan Cekoslovakia antara Republik Ceska dan Slovakia terdapat perbedaan yang mencolok. Orang lebih mengenal Republik Ceska sebagai salah satu kekuatan sepakbola di Eropa Timur yang bisa menjungkalkan kekuatan-kekuatan besar Eropa Barat bahkan beberapa negara sepakbola di Eropa Barat akan selalu memberikan cap bagus ketika bertemu tim ini. Ketika masih dalam satu naungan Cekoslovakia pun orang lebih familiar dengan nama Ceko yang merupakan singkatan dari negara tersebut. Penyingkatan itu terus saja terjadi ketika keduanya berpisah walaupun secara etimologis salah karena Ceko berarti Cek dan.

Selepas pisah dari Slovakia, Republik Ceska malah menjelma menjadi kekuatan baru dengan menjadi runner-up Piala Eropa 1996 dan selalu berpartisipasi dalam berbagai ajang sepakbola internasional. Slovakia? Malah sebaliknya. Tak satupun berbagai ajang sepakbola internasional berhasil digapai bahkan untuk regional sekalipun. Hal tersebut yang menjadikan kualitas permainan antara Slovakia dan Republik Ceska. Slovakia pun menunggu waktu sekitar 17 tahun untuk akhirnya bisa berlaga di Piala Dunia. Tentu saja keberhasilan itu merupakan sukses yang luar biasa setidaknya untuk saat ini karena mereka bisa membanggakan diri terhadap tetangganya, Republik Ceska yang justru tidak lolos. Kini dengan bermaterikan pemain-pemain seperti Marek Hamsik dan Martin Skrtel, Slovakia ingin menunjukkan bahwa penampilan di Piala Dunia nanti bukan hanya sebagai pelengkap. Jelas walaupun mereka ditempatkan satu grup dengan juara bertahan Italia, kuda hitam Paraguay serta tim yang tak terlalu dikenal, Selandia Baru. 

Dan tentunya tetap saja sebagai penikmat sepakbola kita tetap berharap kejutan pada dua debutan ini seperti yang dilakukan Maroko, Kamerun, Arab Saudi, Kroasia, dan Senegal.